Setelah kemarin "dipaksa" bawa motor sendirian di Jakarta, tadi, sepulang kerja terbesit, "tar dulu ah, belum mau pulang" seolah jadi kalimat pembuka untuk akhir pekan yang menyenangkan.
Tidak seperti biasanya, hari ini ada helm di dashboard matic Maruko (Maruko adalah nama motor). mengingat kosan dan kantor cuman berjarak 2 menit waktu tempuh, jadi helm jarang masuk list prioritas starterpack berangkat ngantor. Jarum indikator bensin menunjukan ke arah jam 1. tentu sudah lebih cukup kalo untuk sekedar keliling ke depan jalan raya sini mah.
Dulu ada kebiasaan pulang kantor yang tanpa sadar tidak pernah lagi dilakukan, alias motoran tanpa tujuan menempuh rute paling jauh sepulang kerja.
Di dalam kepala, Jakarta adalah pusat dunia, momok yang sempurna bagi mas-mas lugu yang muncul dari desa. Tidak seperti Karawang yang sudah dikenal sampai ke letak lubang aspalnya, Jakarta adalah orang yang turun dari ojek online di depan stasiun, datang mepet senelum jam keberangkatan kereta.
Tapi sore tadi, berbekal pengalaman "dipaksa membelah janari ciputat" kemarin, muncul rasa percaya diri untuk melakukanya lagi. kemudian pergilah tanpa ragu, tanpa tujuan, dan tanpa merasa tersesat.
Tanpa tau dimana, seketika di Fatmawati, lalu berada disamping pesepeda gravel yang melintas di seberang mbloc, dilibas moge didepan gedung ASEAN, lalu tiba di Senayan berkeliling Istora bersama Maruko tanpa tau harus melakukan apa.
Enggak jarang "terpaksa" membawa keberanian baru, pengalaman baru, dan tempat baru. Enggak jarang juga banyak hal berubah lebih menyenangkan datang dari beberapa keputusan impulsif yang gue ambil. Ya, sering gagal juga sih, bahkan beberapa ninggalin kesan traumatis, tapi kalo ga dicoba kan ga akan pernah tau rasanya gimana?
Seperti kaya sound tiktok yang lagi rame beberapa hari ini dari Sivia Azizah
Comments (0)
Login to post a comment.